Senin, 7 September 2026 · WIB
TUAH

Jernih dalam Memahami.

Breaking

Dua Dosen FIB Unilak Raih Hibah Dana Indonesiaraya 2026, Bawa Sastra Melayu Riau ke Jepang

Dua Dosen FIB Unilak Raih Hibah Dana Indonesiaraya 2026, Bawa Sastra Melayu Riau ke Jepang
Generate ai/istimewa

Bersama tim delegasi kebudayaan Riau, keduanya dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan di Negeri Sakura pada 14–18 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Siar Sastra Melayu di Negeri Matahari Terbit.”

PEKANBARU (TUAH) — Dua dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning (FIB Unilak), Jefrizal, S.Hum., M.Sn. dan M. Mukrizal, S.S.I., M.M., mengukir prestasi dengan meraih hibah Dana Indonesiaraya tahun 2026.

Hibah tersebut menjadi bagian dari program diplomasi budaya yang akan membawa khazanah sastra dan budaya Melayu Riau ke Jepang. Bersama tim delegasi kebudayaan Riau, keduanya dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan di Negeri Sakura pada 14–18 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Siar Sastra Melayu di Negeri Matahari Terbit.”

Jefrizal menjelaskan, program tersebut lahir dari kolaborasi sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kebudayaan dan sastra Melayu. Tim terdiri dari Juwandi, S.H., M.H., dosen IAIN Datuk Laksemana Bengkalis; M. Rafiz Edrianto, S.E. dan Monda Gianes, A.Md., Sn., dari Dinas Kebudayaan Provinsi Riau; serta Siska Armiza, S.S., M.Pd., seorang biduan sekaligus penyenandung syair Melayu Riau.

“Projek ini merupakan hasil kolaborasi beberapa pihak. Melalui pendanaan ini, kami akan membawa misi diplomasi budaya Melayu ke Jepang dengan memperkenalkan sastra, tradisi lisan, seni, serta kekayaan budaya Riau kepada masyarakat internasional,” ujar Jefrizal.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan bekerja sama dengan The University of Shiga Prefecture. Sejumlah agenda telah dipersiapkan, mulai dari seminar akademik, seminar kebudayaan Melayu, lokakarya sastra hingga pertunjukan seni kolaboratif.

Menurut Jefrizal, berbagai tradisi sastra Melayu Riau akan menjadi bagian penting dalam program tersebut. Di antaranya Syair Surat Kapal dari Indragiri Hulu, Dodoi Siak, mantra, serta pantun Melayu yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

“Kita merancang berbagai program, di antaranya memperkenalkan tradisi sastra Melayu seperti Syair Surat Kapal dari Indragiri Hulu, Dodoi Siak, mantra, hingga pantun Melayu kepada masyarakat lokal Jepang, akademisi, serta Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Shiga,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Delegasi, Juwandi, S.H., M.H., mengatakan program tersebut merupakan langkah strategis untuk membawa sastra Melayu Riau ke panggung internasional dengan pendekatan yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Kami tidak hanya membawa sastra Melayu sebagai warisan masa lalu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana puisi dan syair Melayu bertransformasi serta tetap relevan di era kontemporer. Lewat seminar dan pertunjukan seni budaya di Jepang, kami ingin audiens internasional merasakan langsung estetika, nilai filosofis, dan musikalitas sastra Melayu,” katanya.

Juwandi yang selama ini aktif dalam pengembangan budaya dan pariwisata di Desa Bukit Batu tersebut menilai diplomasi budaya dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan identitas Melayu Riau sekaligus membangun jejaring baru di tingkat internasional.

Sementara itu, Haruka Suzuki, Ph.D., selaku koordinator acara sekaligus dosen di The University of Shiga Prefecture Jepang, menekankan pentingnya diplomasi budaya dalam memperkuat hubungan bilateral dan jejaring akademik antara Indonesia dan Jepang.

Hal tersebut disampaikannya dalam rapat koordinasi secara daring melalui Zoom, Selasa (18/8). Dalam pertemuan tersebut, persiapan teknis dan rangkaian kegiatan delegasi Riau di Jepang turut dibahas.

Haruka menilai program pertukaran budaya seperti ini dapat membuka ruang dialog dan kolaborasi jangka panjang antara institusi pendidikan di Indonesia dan Jepang, khususnya dalam bidang pendidikan, sastra dan kebudayaan.

Program “Siar Sastra Melayu di Negeri Matahari Terbit” diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pertunjukan semata. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan sekaligus membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara akademisi, komunitas dan institusi kebudayaan Indonesia-Jepang.

Bagi Riau, keberangkatan delegasi tersebut menjadi momentum untuk membawa sastra Melayu keluar dari ruang lokal menuju panggung dunia.

Dari syair dan pantun di bumi Melayu Riau, menuju Negeri Sakura—menjadikan sastra sebagai bahasa persahabatan dan budaya sebagai jembatan dua bangsa.

Bagikan
D
Penulis
Danpe

Jurnalis teknologi dan isu Riau. Menulis dengan pendekatan data.