Senin, 7 September 2026 · WIB
TUAH

Jernih dalam Memahami.

Breaking · Riau

Duka Kembali Datang dari PPDS Anestesi, Ada Apa di Balik Pendidikan Dokter Spesialis?

Duka Kembali Datang dari PPDS Anestesi, Ada Apa di Balik Pendidikan Dokter Spesialis?
Generate ai/internet

Dr Josapat Bima Sakti Sitepu diketahui merupakan dokter yang pernah menempuh pendidikan di lingkungan FK USU. Namanya juga tercatat sebagai penulis dalam publikasi ilmiah bersama akademisi FK USU.

MEDAN (TUAH) – Dunia pendidikan kedokteran kembali berduka. Dokter Residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), dr Josapat Bima Sakti Sitepu, dikabarkan meninggal dunia, Sabtu (8/8)

Kabar tersebut kembali menjadi perhatian publik, terutama karena nama PPDS Anestesi dalam beberapa waktu terakhir juga pernah menjadi sorotan setelah sejumlah dokter peserta pendidikan spesialis meninggal dunia.

Dr Josapat Bima Sakti Sitepu diketahui merupakan dokter yang pernah menempuh pendidikan di lingkungan FK USU. Namanya juga tercatat sebagai penulis dalam publikasi ilmiah bersama akademisi FK USU.

Kabar kepergian dr Josapat sontak mengundang duka dari kalangan sejawat. Ungkapan belasungkawa beredar di kalangan dokter dan tenaga kesehatan yang mengenal almarhum.

Namun, di balik kabar duka tersebut, muncul kembali pertanyaan besar di tengah masyarakat: ada apa dengan pendidikan PPDS, khususnya bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif?

Pertanyaan itu bukan untuk menyimpulkan bahwa program pendidikan anestesi menjadi penyebab kematian. Terlebih, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang dapat memastikan penyebab meninggalnya dr Josapat.

Namun, rentetan kasus yang melibatkan peserta PPDS membuat persoalan mengenai beban pendidikan dokter spesialis kembali layak diperbincangkan secara terbuka.

PPDS bukanlah pendidikan yang ringan. Peserta didik dituntut menguasai ilmu kedokteran spesialis sekaligus menjalani aktivitas klinis dengan tanggung jawab besar. Bidang anestesiologi sendiri memiliki tuntutan kompetensi tinggi karena berkaitan langsung dengan kondisi pasien yang membutuhkan penanganan intensif, termasuk selama tindakan operasi.

Karena itu, persoalan keselamatan dan kesejahteraan peserta didik tidak semestinya hanya dilihat dari sisi individu. Sistem pendidikan, beban kerja, waktu istirahat, pola pembinaan, relasi antara senior dan junior, hingga mekanisme pengawasan perlu menjadi bagian dari evaluasi apabila memang terdapat indikasi persoalan.

Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang salah. Tetapi apakah sistem pendidikan dokter spesialis sudah benar-benar mampu melindungi mereka yang sedang dipersiapkan untuk menyelamatkan nyawa orang lain?

Kepergian dr Josapat semestinya menjadi momentum untuk kembali melihat persoalan PPDS secara lebih serius dan objektif. Jangan sampai setiap kabar duka hanya berhenti pada ucapan belasungkawa, sementara akar persoalan tidak pernah benar-benar dicari.

Jika memang tidak ada persoalan sistemik, maka hal itu juga perlu dijelaskan secara transparan. Namun jika terdapat celah dalam sistem pendidikan, pembinaan, maupun perlindungan peserta PPDS, evaluasi dan perbaikan tidak boleh menunggu korban berikutnya.

TUAH.NET menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya dr Josapat Bima Sakti Sitepu. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga serta seluruh sejawat yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Bagikan
Dalam berita ini
D
Penulis
Danpe

Jurnalis teknologi dan isu Riau. Menulis dengan pendekatan data.