PEKANBARU (TUAH) — Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memasuki periode yang perlu diwaspadai seiring meningkatnya risiko kekeringan pada musim kemarau 2026.
Pemerintah pun memperkuat berbagai langkah pencegahan dan penanganan karhutla. Salah satu strategi yang terus digunakan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu membasahi lahan yang rentan terbakar sekaligus menekan potensi meluasnya kebakaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat risiko karhutla diperkirakan meningkat mulai Juli dan mencapai periode puncak pada Agustus hingga September 2026, terutama di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan Karhutla
Penanganan karhutla tahun ini difokuskan pada enam provinsi prioritas sesuai kebijakan pemerintah, yakni:
- Riau
- Jambi
- Sumatera Selatan
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Selatan
BNPB menyebut enam wilayah tersebut menjadi prioritas penanganan karhutla berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2020. Penanganan dilakukan secara berlapis, mulai dari pencegahan dan pemantauan hingga operasi udara apabila kebakaran berkembang.
Bagi Riau, perhatian khusus diberikan karena wilayah ini memiliki kawasan gambut yang rentan mengalami kekeringan dan kebakaran saat kondisi cuaca mendukung.
OMC Tidak Hanya untuk Memadamkan Api
Operasi modifikasi cuaca tidak semata-mata dilakukan setelah kebakaran terjadi. Pemerintah juga menggunakannya sebagai langkah pencegahan dengan membasahi lahan dan menjaga ketersediaan air di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
BMKG menjelaskan bahwa OMC perlu dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan. Dengan dukungan informasi meteorologi, penyemaian dapat diarahkan ke wilayah yang memiliki peluang terbentuknya awan hujan.
Dalam pelaksanaannya, bahan semai seperti natrium klorida (NaCl) dapat digunakan untuk membantu proses pembentukan hujan. BMKG mencatat sejumlah operasi penanganan karhutla melalui OMC telah berlangsung di berbagai wilayah sepanjang 2026.
Riau Jadi Salah Satu Wilayah yang Mendapat Dukungan OMC
Riau menjadi salah satu wilayah yang mendapat dukungan pemerintah pusat dalam penanganan karhutla.
BNPB sebelumnya melaksanakan operasi modifikasi cuaca di Riau sebagai bagian dari strategi mitigasi. Operasi tersebut dilengkapi dengan dukungan satuan tugas darat yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat.
Penanganan juga dapat diperkuat dengan operasi udara berupa water bombing apabila kondisi kebakaran sudah tidak memungkinkan ditangani hanya melalui pencegahan maupun OMC.
Pemerintah Perkuat Pencegahan Sebelum Api Membesar
Pemerintah tidak menjadikan OMC sebagai satu-satunya strategi menghadapi karhutla.
Pemantauan titik panas, patroli darat, pembasahan lahan gambut, kesiapan personel pemadam, penegakan hukum, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan perusahaan menjadi bagian dari sistem penanganan yang dilakukan secara terpadu.
Pendekatan tersebut penting karena efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Ketika awan yang memenuhi persyaratan tidak tersedia, operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan secara optimal.
Karena itu, pemerintah mendorong pencegahan dilakukan sedini mungkin sebelum api meluas dan menghasilkan asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas ekonomi.
Ancaman Karhutla Diperkirakan Meningkat pada Agustus-September
Kewaspadaan terhadap karhutla menjadi semakin penting memasuki Agustus dan September 2026.
BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa risiko kebakaran diperkirakan meningkat pada periode tersebut. Kondisi ini membuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat menjadi semakin penting.
Bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di wilayah rawan karhutla, pencegahan juga menjadi bagian penting dari upaya bersama. Pembukaan lahan dengan cara membakar serta aktivitas yang berpotensi memicu api perlu dihindari, terutama ketika kondisi lahan semakin kering.
📌 Yang Perlu Anda Ketahui
- Pemerintah memperkuat operasi modifikasi cuaca untuk mencegah dan menangani karhutla selama periode rawan kebakaran 2026.
- Enam provinsi menjadi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
- Risiko karhutla diperkirakan meningkat pada Agustus-September 2026, sehingga OMC, patroli darat, pembasahan lahan, dan operasi pemadaman disiapkan secara terpadu.