PEKANBARU (TUAH) – Pertamina Patra Niaga menanggapi laporan mengenai sinyal kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di sejumlah wilayah Sumatera. Perusahaan menduga kondisi tersebut dipicu oleh distribusi solar bersubsidi yang belum tepat sasaran. Situasi ini menjadi perhatian karena ketersediaan solar sangat berpengaruh terhadap sektor transportasi, logistik, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Pertamina Patra Niaga, dugaan distribusi yang belum tepat sasaran menyebabkan alokasi solar di lapangan tidak sesuai dengan kebutuhan riil. Kondisi tersebut berpotensi memicu antrean panjang di sejumlah SPBU dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan BBM bersubsidi oleh pihak yang tidak berhak.
Sinyal kelangkaan tersebut juga mendapat perhatian dari Organisasi Angkutan Darat (Organda). Sekretaris Jenderal Organda, Kurnia Lesani Adnan, mengatakan pihaknya hampir setiap hari menerima laporan antrean solar dari berbagai daerah di Pulau Sumatera.
"Kelangkaan solar ini sebenarnya sudah berlangsung lama dan selalu berulang. Namun, kondisinya semakin parah dalam sebulan terakhir," ujar Adnan.
Ia menyebut laporan antrean tidak hanya berasal dari satu daerah, melainkan dari berbagai kota seperti Padang, Bukittinggi, Jambi, Medan, Palembang, hingga Lampung. Menurutnya, persoalan serupa juga mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
"Persoalan ini tidak hanya terjadi di Sumatera, tetapi juga mulai dirasakan di beberapa wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Kelangkaan semakin masif sejak diberlakukannya sistem barcode melalui aplikasi MyPertamina," tambahnya.
Kelangkaan solar bersubsidi sendiri bukan merupakan persoalan baru. Dalam beberapa tahun terakhir, antrean panjang di SPBU kerap terjadi ketika distribusi tidak berjalan optimal atau permintaan meningkat. Dampaknya paling dirasakan oleh sopir angkutan barang, angkutan umum, nelayan, hingga pelaku usaha yang bergantung pada pasokan solar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Di Pekanbaru, antrean kendaraan pengangkut logistik beberapa hari terakhir juga terlihat di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para pengemudi karena waktu tunggu yang panjang dapat menghambat distribusi barang serta meningkatkan biaya operasional.
Hingga saat ini, Pertamina Patra Niaga masih melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi dan penyaluran solar bersubsidi agar penyalurannya lebih tepat sasaran serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
---
Yang Perlu Anda Ketahui :
• Pertamina Patra Niaga menduga antrean dan kelangkaan solar di Sumatera dipicu oleh distribusi BBM bersubsidi yang belum tepat sasaran.
• Organda menyebut laporan antrean solar hampir setiap hari diterima dari berbagai daerah di Sumatera, bahkan mulai meluas ke Kalimantan dan Sulawesi.
• Kelangkaan solar berdampak langsung terhadap sektor transportasi, logistik, dan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga diharapkan penyaluran BBM bersubsidi dapat segera kembali normal.